Saya Sekar Ayuningtyas, keramikus yang bekerja dengan stoneware dan glasir racikan sendiri. Setiap karya lahir dari putaran roda, dibakar perlahan di tungku gas hingga 1.230°C.
Koleksi "Musim Hujan" — stoneware, glasir abu jerami, 2026
Sebagian besar karya adalah edisi kecil 6–12 buah. Beberapa merupakan karya tunggal yang tidak diulang.
Stoneware toasted, glasir abu jerami dengan tetesan tembaga. Tinggi 28 cm.
Enam cangkir tanpa gagang, permukaan matte dengan bibir unglazed. 180 ml.
Piring lebar 32 cm, tekstur sisir di tepian, glasir hijau seladon lokal.
Teko 750 ml dengan pegangan rotan, gradasi glasir terakota ke pasir.
Satu karya butuh 3–5 minggu. Tidak ada yang dipercepat — keramik menghukum ketergesaan.
Tanah stoneware diuleni dan di-wedging untuk mengeluarkan udara, lalu didiamkan semalam.
Dibentuk di roda putar, kemudian di-trim setelah setengah kering untuk menemukan kaki dan bobotnya.
Pembakaran pertama 900°C, lalu dicelup glasir racikan dari abu jerami dan mineral lokal.
Pembakaran akhir 1.230°C selama 9 jam. Tungku dibuka dua hari kemudian — momen paling menegangkan.
Saya belajar keramik di ISI Yogyakarta, lalu magang dua tahun di studio tembikar di Kasongan. Tahun 2019 saya mendirikan Studio Tanahliat di rumah limasan tua di pinggir selatan Yogyakarta.
Karya saya berangkat dari bentuk fungsional sehari-hari — cangkir, piring, vas — yang dikerjakan pelan supaya punya umur panjang, baik fisik maupun makna.
Beberapa perhentian penting sejak studio berdiri.
Terbuka untuk pesanan custom, kolaborasi restoran & kafe, serta kelas privat roda putar di studio. Slot custom dibuka setiap awal bulan.